Undang Diaspora, Pembangunan NTT Dipercepat dengan Basis Kolaborasi

Ahad, 14 Desember 2025 | 09:21:45 WIB
Peserta Rapat Koordinasi Sinergi Pembangunan Daerah yang melibatkan diaspora NTT dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri, Sabtu (13/12/25) di NTT. (foto/timpost.id)

Kupang, BGNNEWS.CO.ID - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) menggelar Rapat Koordinasi Sinergi Pembangunan Daerah yang melibatkan diaspora NTT dari berbagai wilayah di Indonesia hingga luar negeri. 

Kegiatan yang mengusung tema “Kolaborasi dan Sinergi untuk Kemajuan NTT” ini menjadi wadah strategis mempertemukan pemerintah daerah dengan diaspora untuk mempercepat pembangunan berbasis kolaborasi.

?Rakor yang berlangsung selama dua hari ini dihadiri oleh jajaran PEMPROV NTT, kepala daerah, organisasi kepemudaan, serta diaspora NTT dari berbagai latar belakang. 

Kegiatan tersebut mengusung tag line #BETA NTT (manis dan bae, Baku Sayang–Baku Jaga) sebagai fondasi kebersamaan membangun daerah.

?Ketua Umum Forum Pemuda NTT Yohanes Hiba Ndale atau biasa di sebut Adi Ndale menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menyatukan seluruh diaspora untuk bersinergi dengan pemerintah daerah, khususnya dalam mendorong masuknya investasi ke NTT.

?“Pertemuan ini mempertemukan seluruh diaspora, baik yang hadir langsung maupun secara daring, untuk berkolaborasi bersama Pemerintah Provinsi NTT. Kami terus membangun jejaring agar dapat membawa investor dari berbagai bidang untuk berinvestasi di NTT sehingga perputaran ekonomi daerah bisa semakin bergeliat,” ujarnya, Sabtu (13/12/2025).

Ia menyebutkan, peserta yang hadir secara langsung berasal dari sekitar 17 provinsi, sementara diaspora lainnya mengikuti kegiatan melalui Zoom Meeting. 

“Ini adalah pertemuan diaspora NTT seluruh dunia yang diinisiasi oleh Gubernur NTT, Bapak Melki Lakalena,” katanya.

?Menurutnya, gagasan menyatukan diaspora berangkat dari perjalanan panjang Forum Pemuda NTT yang sejak 2016 aktif membangun jejaring pemuda NTT di berbagai daerah. 

Hingga kini, jejaring Forum Pemuda NTT telah terbentuk di sekitar 24 hingga 25 provinsi di Indonesia.

?“Pak Gubernur memiliki kerinduan besar untuk menyatukan diaspora, karena membangun NTT tidak hanya dari dalam daerah, tetapi juga dari luar NTT. Oleh karena itu, seluruh elemen diaspora, termasuk Forum Pemuda NTT dan berbagai ikatan kedaerahan, bersinergi untuk membangun NTT,” jelasnya.

?Dari sisi pemerintah daerah, Forum Pemuda NTT menilai Pemprov NTT berperan sebagai fasilitator yang mengakomodasi seluruh elemen diaspora. 

Salah satu hasil kesepakatan penting dalam rakor ini adalah pembentukan sekretariat bersama.

?“Sekretariat bersama ini nantinya akan beralamat di Kantor Badan Penghubung. Semua koordinasi akan dilakukan melalui kantor tersebut sehingga aspirasi dan persoalan masyarakat, termasuk saat terjadi bencana alam, dapat ditangani dengan lebih cepat,” tambahnya.

?Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FP NTT, Yos Meba, menilai rakor diaspora ini sebagai forum strategis yang menghadirkan berbagai entitas diaspora dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri untuk terlibat aktif dalam pembangunan NTT.

?“Banyak hal baik yang didiskusikan dalam forum ini, terutama bagaimana peran diaspora dalam bermitra dengan pemerintah untuk mendorong program-program pembangunan di NTT dengan semangat *tayobangunan*,” ujarnya.

?Ia menambahkan, forum tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat silaturahmi sekaligus melahirkan gagasan dan pemikiran yang dapat disumbangkan kepada Pemerintah Provinsi NTT. 

Menurutnya, diaspora harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses pembangunan daerah.

?Yos Meba juga menyoroti keterlibatan sejumlah kepala daerah dalam kegiatan tersebut. “Forum ini dihadiri oleh beberapa kepala daerah, di antaranya Bupati Rote Ndao, Wakil Bupati Sumba Tengah, sekretaris daerah, serta pejabat dari berbagai kabupaten dan kota di NTT,” ungkapnya.

?Ia menjelaskan, pada hari pertama kegiatan, peserta mendapatkan pemaparan terkait program-program yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi NTT oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Sementara pada hari kedua, kegiatan difokuskan pada diskusi kelompok.

?“Diskusi dilakukan dalam beberapa kelompok sesuai topik yang telah ditentukan, seperti pendidikan, kesehatan, penanggulangan kemiskinan, dan isu-isu strategis lainnya. Dari diskusi ini diharapkan lahir rekomendasi konkret yang dapat ditindaklanjuti bersama oleh pemerintah dan diaspora,” pungkasnya.

?Melalui rakor ini, PEMPROV NTT berharap kolaborasi dengan diaspora dapat menghasilkan peta jalan kerja sama yang terukur dan berkelanjutan, sehingga pembangunan NTT dapat berjalan lebih cepat, inklusif, dan berdampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. (Timpost.id/rls)

Terkini