Target Kemendag 2026: Tingkatkan Volume Ekspor CPO dan Memperkuat Tata Niaga Berkelanjutan

Target Kemendag 2026: Tingkatkan Volume Ekspor CPO dan Memperkuat Tata Niaga Berkelanjutan
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI, Dyah Roro Esti Widya Putri diwawancara wartawan.

Jakarta, BGNNEWS.CO.ID - Sepanjang Januari–Oktober 2025, minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) menjadi salah satu komoditas nonmigas dengan ekspor tertinggi, ikut mendorong surplus perdagangan Indonesia hingga US$ 35,88 miliar atau sekitar Rp 600,1 triliun (kurs Rp16.726/US$). Dengan demikian CPO kembali menjadi bintang utama ekspor Indonesia.

''Ketika berbicara mengenai surplus perdagangan tahun 2025, salah satu ekspor tertinggi kita adalah CPO,'' kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI, Dyah Roro Esti Widya Putri pada wartawan usai menghadiri “Pembukaan Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia Tahun 2026” di Jakarta Pusat, Jumat (2/1/2026).

Data ini menegaskan posisi strategis CPO dalam perekonomian Indonesia. Minyak sawit tidak hanya menopang sektor agrikultur, tapi juga menjadi penggerak utama devisa nonmigas, mencatat kontribusi signifikan terhadap neraca perdagangan nasional.

Namun, ke depan, Kemendag RI tidak hanya ingin ekspor CPO tinggi, tapi juga berkelanjutan. Roro menegaskan pentingnya mendorong rantai pasok CPO yang sustainable. 

Target Kemendag untuk 2026 jelas untuk meningkatkan volume ekspor CPO, sekaligus memperkuat tata niaga yang berkelanjutan. Strategi ini sejalan dengan tekanan global terhadap praktik produksi ramah lingkungan dan sertifikasi sawit internasional, termasuk RSPO.

Roro juga menekankan peran pelaku usaha dalam mencapai target ini. “Kontribusi para pelaku usaha di bidang CPO amat berpengaruh. Sosialisasi dan peran mereka di dalam sistem ini sangat penting,” katanya. 

Artinya, tidak cukup hanya mengandalkan volume produksi, tetapi koordinasi dan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan menjadi kunci. Sosialisasi Kemendag kepada pelaku usaha pun akan ditingkatkan. Pemerintah menargetkan agar setiap rantai pasok mulai dari hulu hingga ekspor mematuhi praktik berkelanjutan, sekaligus menjaga stabilitas harga di pasar global.

Fenomena ini sekaligus menjadi sinyal bagi investor dan pelaku industri. CPO bukan sekadar komoditas tradisional, tapi aset strategis nasional yang menopang surplus perdagangan dan posisi Indonesia di pasar global.

Dengan fokus pada ekspor CPO dan rantai pasok berkelanjutan, pemerintah menegaskan ambisi Indonesia tidak hanya menjadi produsen sawit terbesar, tetapi juga pemain utama dalam pasar global yang semakin menuntut transparansi, standar lingkungan, dan keberlanjutan produksi. (jdi/els)

 

Berita Lainnya

Index